Hampir Separuh Gen Z Punya Kerjaan Sampingan, Kamu Sudah?

Hal Yang Didambakan Milenial dan Gen-Z Dalam Bekerja (Dok. BRI)

Survei yang dilakukan oleh Deloitte menunjukkan bahwa separuh dari kalangan Gen Z kini memiliki pekerjaan sampingan. Kondisi ini dipicu kekhawatiran mereka atas uang yang mereka peroleh diyakini tidak mencukupi kebutuhannya.

Survei yang digelar pada 2023 itu menunjukkan sekitar 46% responden yang termasuk kategori Gen Z memiliki pekerjaan tambahan di samping kerjaan utamanya, baik dalam bentuk https://apkdwslot88.com/ pekerjaan penuh waktu ataupun paruh waktu. Generasi milenial sebesar 37%.

Responden survei Deloitte ini terdiri dari 14.483 orang Gen Z dan 8.373 milenial dari 44 negara.

Survei itu juga menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah mereka yang mengambil pekerjaan sampingan pada tahun ini dibanding tahun lalu. Untuk Gen Z besaran kenaikannya 3% sedangkan milenial 4%.

“Pekerjaan sampingan sedang meningkat untuk Gen Z dan Milenial saat mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan,” kata Michele Parmelee, global people and purpose leader di Deloitte, kepada CNBC Make It dikutip Kamis (18/5/2023).

Pekerjaan sampingan yang paling banyak mereka ambil adalah penjualan berbagai macam produk atau layanan secara daring seperti pengiriman makanan atau ride-hailing, outlet artistik, atau membuat konten media sosial sebagai pemberi pengaruh (influencer).

“Uang adalah alasan utama mereka memiliki pekerjaan sampingan. Selain itu responden sebagai cara untuk memonetisasi hobi, keluar dari pekerjaan utama, memperluas jaringan, dan dalam beberapa kasus untuk mengembangkan keterampilan supaya dapat jalur karir baru,” ucap Parmelee.

Sebanyak 25% dari kalangan Gen Z dan sekitar 28% dari generasi milenial menyatakan, motivasi mereka mencari pekerjaan sampingan adalah untuk mendapat skill baru dan membangun jejaring. Kurang dari seperempat dari setiap generasi mengatakan hal itu terkait dengan hobi mereka atau membantu mereka untuk berhenti dari pekerjaan utama.

Namun, persoalan keuangan menjadi puncak alasannya dengan besaran mencapai 38% dari responden Gen z dan 46% milenial. Mereka mencari pendapatan tambahan supaya uang yang diperoleh bisa lebih banyak.

Survei Deloitte ini juga menunjukkan data bahwa biaya hidup menjadi perhatian utama generasi milenial dan Gen Z saat ini. Beriringan dengan tingginya tekanan inflasi di negara-negara maju, seperti melambungnya harga-harga di Amerika Serikat sekitar 4,9% pada April dan Inggris 10,1%.

“Generasi ini dibebani dengan ketidakamanan finansial,” kata Parmelee. “Kekhawatiran ekonomi menghambat kemampuan Gen Z dan milenial untuk merencanakan masa depan mereka, dan menyebabkan mereka menunda keputusan besar dalam hidup,” tambahnya.

Namun, terlepas dari kekhawatiran ini, mungkin ada secercah harapan, dengan 44% Gen Z dan 35% generasi milenial optimistis situasi keuangan mereka akan segera membaik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*